Blog Details

Image

Merawat Jiwa, Membangun Harapan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jambi

Ghazy, penerima beasiswa Mutual+ angkatan ke-7, bersama tiga rekannya yang bergabung sebagai relawan, yaitu Rifat dari Universitas Brawijaya Malang, Famela dari Universitas Jambi, dan Abidh dari Universitas Dinamika Bangsa Jambi, bersatu lintas institusi untuk melaksanakan Mutualplus Social Project 1 Tahun 2026 yang merupakan bagian dari Program Beasiswa Mutual+. Keempat anggota tim ini datang dari latar belakang kampus yang berbeda-beda, namun memiliki satu kesamaan: kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang sering kali tidak mendapat cukup perhatian.

Mengangkat tema “Merawat Jiwa, Membangun Harapan: Bersama Menuju Pemulihan yang Bermakna”, tim merancang empat kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap di unit Rehabilitasi Mental RSJ Daerah Jambi, yaitu Sports Day, Terapi Musik, Berkebun, dan Mewarnai. Keempat kegiatan ini tidak dirancang secara acak, melainkan dipilih dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan pasien agar setiap sesi dapat benar-benar bermakna dan menyenangkan bagi mereka. Kegiatan ini lahir dari keprihatinan tim bahwa pasien dengan gangguan kesehatan jiwa kerap luput dari perhatian publik dan sesungguhnya membutuhkan lebih dari sekadar penanganan medis, yaitu kehadiran orang lain, ruang untuk berinteraksi, serta rasa dihargai sebagai manusia.

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Daerah Jambi adalah satu-satunya rumah sakit milik pemerintah yang secara khusus menangani kesehatan jiwa di Provinsi Jambi. Berlokasi di Jl. Dr. Purwadi No. KM 9,5, Kenali Besar, Alam Barajo, Kota Jambi, rumah sakit ini telah berdiri sejak 1984 dan kini dikenal sebagai RSUD Kolonel H.M. Syukur Jambi, dengan layanan yang mencakup perawatan jiwa, rehabilitasi narkoba, serta layanan spesialis. Saat ini, RSJ Daerah Jambi melayani lebih dari 200 pasien dari berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga lansia, yang membutuhkan pendampingan intensif dalam proses pemulihannya.

Di dalamnya terdapat unit Rehabilitasi Mental yang secara khusus menampung pasien-pasien yang sudah cukup stabil untuk mengikuti kegiatan bersama dan mampu memahami instruksi sederhana. Unit ini secara rutin mengadakan berbagai aktivitas harian seperti olahraga, terapi musik, berkebun, serta kegiatan keagamaan sebagai bagian dari terapi pemulihan yang menyeluruh. Pendekatan ini mencerminkan keyakinan pihak rumah sakit bahwa pemulihan pasien tidak hanya bergantung pada obat-obatan, tetapi juga pada stimulasi sosial dan aktivitas yang membuat mereka merasa berdaya serta tidak jenuh dalam kesehariannya.

Famela mengungkapkan, “Kegiatan ini membuat saya lebih bisa memahami dan menghargai orang lain. Setiap sesinya seru dan berkesan, semoga kegiatan seperti ini bisa terus ada dan semakin banyak orang yang mau terlibat.” Ia merasa pengalaman selama kegiatan ini jauh lebih dari sekadar program sosial biasa, tetapi sesuatu yang mengubah cara ia melihat dan memperlakukan orang di sekitarnya.

Bagi Rifat, empat hari tersebut cukup untuk menyadarkan bahwa kehadiran yang tulus, meski sederhana, dapat berarti sangat besar bagi orang lain. Ia juga menilai bahwa sudah seharusnya lebih banyak pihak yang tergerak untuk melakukan hal serupa. “Melihat para pasien yang tetap semangat di tengah kondisi mereka mengingatkan saya bahwa harapan itu nyata dan selalu ada. Kegiatan ini harus terus berlanjut, karena dampaknya jauh lebih besar dari yang terlihat.”

Abidh juga merasakan hal yang sama. “Empat hari, banyak pelajaran. Pengalaman berharga dan kenangan yang layak untuk terus diingat. Saya harap program ini tidak berhenti di sini.” Singkat, tetapi begitulah cara Abidh menggambarkan betapa bermaknanya program ini. Ia berharap program ini dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak tempat serta lebih banyak orang.

Terakhir, Ghazy menyampaikan, “Jujur, saya tidak menyangka sambutannya bisa seantusias itu. Kegiatan yang menurut kami sederhana ternyata disambut dengan kegembiraan yang sangat tulus oleh para pasien. Ini bukti bahwa program seperti ini benar-benar dibutuhkan dan harus terus ada.” Pengalaman ini meninggalkan kesan yang kuat bagi Ghazy serta memperkuat keyakinannya bahwa kepedulian sekecil apa pun selalu memiliki dampak bagi mereka yang selama ini kurang mendapat perhatian.

 

Penulis: Ghazy, Rifat, Famela, dan Abidh (Kelompok 3 Universitas Brawijaya)

Penyunting: Marcomm Mutual+